Minggu, 21 Maret 2010

BISNIS SKRIPSI


Dunia pendidikan memang benar-benar menjadi polemik di Indonesia. Pendidikan yang seharusnya menjadi perhatian pemerintah itu seolah-olah hanya hiasan kampanyenya. Saya tiba-tiba mengingat cerita guru sejarah saya waktu saya masih duduk di bangku SMP. Katanya, sewaktu Jepang dibom oleh sekutu dulu, kota Hiroshima dan Nagasaki hancur lebur dan rata dengan tanah. Pemerintah Jepang pada waktu itu tidak mencari buruh, tukang, atau pejabat yang masih hidup. Tetapi mencari guru-guru yang masih hidup. Mengapa demikian? Karena pemerintah Jepang pada waktu itu berfikir bahwa dengan jasa seorang intelek (guru) maka kedua kota itu bisa kembali dibangun dan pemuda-pemudanya pun bisa dicerdaskan.
Apa hubungan antara kasus pendidikan di Indonesia dengan pengeboman di Kota Hiroshima dan Nagasaki???
Ini adalah perbandingan serius. Ternyata Indonesia zaman sekarang masih kalah jauh dengan Jepang zaman dulu.  Jepang zaman dulu menaruh perhatian besar pada dunia pendidikan. Dan Indonesia zaman sekarang masih buta akan perhatiannya kepada pendidikan. Hal itu dapat kita lihat dari masih banyaknya anak-anak usia SD yang berkeliaran di perempatan lampu merah. Mereka menjual koran dan mengemis rezeki dari pengguna jalan yang terkena lampu merah. Seingat saya, waktu musim pemilihan kepala daerah lalu, para kandidat mengkampanyekan pendidikan gratis. Namun sekarang, ketika mereka sudah menduduki kursi yang nyaman, mobil dinas yang mewah, dan ruangan yang ekslusif, janji itu dilupakan.
Dunia kampus pun tak lepas oleh kebobrokan tersebut. Sebelum artikel ini saya posting, saya sempat membaca koran lokal. Dalam beritanya disebutkan bahwa didunia kampus, marak terjadi penjualan skripsi. Di salah satu kampus ternama di Makassar misalnya. Bisnis ini ternyata sangatlah mudah dilakukan.  Hanya dengan modal kartu perpustakaan atau buku alumni dan budget Rp. 100 ribu, fotokopian skripsi pun jatuh ke tangan.
Skripsi yang seharusnya menjadi karya abadi dan wujud keintelektualan para mantan mahasiswa ternyata dijadikan lahan bisnis bagi oknum-oknum tertentu. Oknum dalam hal ini adalah penjaga perpustakaan tentunya. Menurut saya, ini adalah bentuk pelecehan terhadap mantan mahasiswa (alumni) yang telah berdarah-darah membuat skripsi tersebut. Itu adalah masterpiece bagi ownernya. Tetapi malah dijadikan lahan pengumpul rupiah. Wujud dari ilmu yang telah diserap selama bertahun-tahun oleh para alumni itu ternyata menjadi  mainan yang hasilnya dinikmati oleh penjaga perpustakaan.
Para pebisnis skripsi tersebut adalah seorang criminal. Karena tindakan yang dilakukan tersebut adalah tindakan yang berkaitan dengan pidana. Melanggar Undang-undang Republik Indonesia Nomor 43 tahun 2007 tentang perpustakaan dan Undang-undang Nomor 19 tahun 2002 tentang hak cipta.
Buat para petinggi-petinggi kampus tolong bertindak tegas dalam hal ini. Ini adalah pelecehan. Usut tuntas oknum-oknum yang dimaksud diatas.
Demi kebaikan bersama, saya akan menyebut kampus yang dimaksud diatas. Kampus tersebut adalah kampus merah, Universitas Hasanuddin Makassar. Saya menyebut ini suatu kebaikan agar orang-orang yang membaca artikel ini bisa membantu untuk mengusut tindakan bejat tersebut.
BANGUN KAWAN… BANGUN INDONESIA KITA…DIMULAI DARI HAL KECIL..

Digg Google Bookmarks reddit Mixx StumbleUpon Technorati Yahoo! Buzz DesignFloat Delicious BlinkList Furl

0 komentar: on "BISNIS SKRIPSI"

Posting Komentar

komentar anda akan dimoderasi terlebih dahulu...

thanks for comment...