Sabtu, 13 Februari 2010

PAHLAWAN MODERN

Melihat berita di tv beberapa waktu yang lalu, hati saya teriris haru. Kali ini bukan karena melihat tingkah bodoh para politisi, bukan karena mendengar bualan dari para pejabat tinggi negara, dan bukan karena melihat pemimpin yang tak lebih dari seekor kerbau (kalau saya menyebut presiden dan wakilnya nanti ditangkap polisi). Melainkan karena melihat seorang pahlawan. Pahlawan yang sebenar-benarnya pahlawan di era sekarang ini.

Kalau dulu ada Jendral Soedirman, Kapitan Pattimura, dan Sultan Hasanuddin. Sekarang ada Sinar. Sang Pahlawan di era Modern.Sinar, 6 tahun, adalah nama dari bocah yang saya sebut sebagai pahlawan tadi. Sinar memang pantas disebut pahlawan. Dialah bukti anak yang berbakti kepada orang tuanya. Tak sia-sia sang Ibu, Murni, melahirkannya. Menampakkkan bakti dan cintanya kepada bunda sejak 2 tahun lalu. Merawat dan mengurusnya.

Sinarlah yang membantu dan menemani ibunya selama ini. Mulai dari memindahkan atau menggeser tubuhnya, masak, makan, minum, mandi hingga buang air. Semua itu ia kerjakan sendiri dengan penuh cinta. Tayangan yang ditampilkan di televisi ini bahkan sanggup meruntuhkan air mata mereka yang menyaksikannya. Termasuk saya. Ada rasa iba dan takjub sekaligus melihat bocah usia 6 tahun yang tampak penuh tanggung jawab melakukan tugas mulianya, sambil mengusap mesra pipi ibunya.

Bocah kelas satu Sekolah Dasar ini bahkan kerap terlambat ke sekolah karena harus mengurus ibunya. Begitu pula setelah pulang sekolah. Nyaris seluruh waktunya telah ia persembahkan bagi ibunya yang sakit parah. Walaupun Sinar memiliki lima orang kakak dan juga belum dewasa, namun mereka semua tinggal terpisah dengannya. Faktor ekonomi membuat mereka menjadi pembantu rumah tangga.

Kisah Sinar, bocah belia usia 6 tahun ini mengajarkan kepada kita bagaimana seharusnya berbakti kepada kedua orang tua. Walau di antara kita mungkin ada yang bertanya, apakah karena usianya yang masih sangat belia itu yang membuat Sinar mampu memahami arti berbakti kepada orang tua? Karena kita sendiri heran melihat perilaku seorang anak yang sudah dewasa justru tak sudi melayani ibunya yang renta dan tak mampu lagi berbuat apa-apa. Ia telah kehabisan cinta dan kasih sayang untuk ibunya.

Tapi begitulah Allah mengajarkan kepada kita tentang cinta kasih kepada orang tua melalui anak kecil ini. IA telah letakkan dalam hatinya pada saat banyak manusia yang justru tak memilikinya. Semoga saja ibu Murni dapat segera sembuh dari penyakit yang menimpanya. Dan putrinya, Sinar, senantiasa diberikan kekuatan oleh Allah Ta’ala berbakti kepada ibunya.

Coba refleksi diri anda sendiri. Apakah anda bisa melakukan hal yang demikian? Adalah cahaya benderang yang hakiki untuk Ibu di dalam dada kalian?

Buat yang masih diberikan kesempatan untuk menikmati kasih sayang Ibunda, nikmatilah kasih sayang itu. Karena Suatu saat nanti kita akan hidup tanpa kasih sayangnya lagi. Hargailah ibumu, hormatilah surgamu. Masa depanmu setelah didunia terletak dibawah kakinya. perlakukanlah Ibumu bak ratu. Karena kita baru benar-benar merasa kehilangan ketika orang yang kita cintai telah tiada...

"SINAR ADALAH CONTOH BUAT ANAK-ANAK YANG LAIN UNTUK MENDARMAKAN BAKTI KEPADA ORANG TUA. ANAK YANG SEBENAR-BENARNYA ANAK. PAHLAWAN YANG SEBENAR-BENARNYA PAHLAWAN. SAYA YAKIN, ORANG TUA SAYA PASTI MALU MEMPUNYAI ANAK SEPERTI SAYA KETIKA MELIHAT KISAH SINAR. SAYA YAKIN IBU KALIAN JUGA BEGITU."
Digg Google Bookmarks reddit Mixx StumbleUpon Technorati Yahoo! Buzz DesignFloat Delicious BlinkList Furl

0 komentar: on "PAHLAWAN MODERN"

Posting Komentar

komentar anda akan dimoderasi terlebih dahulu...

thanks for comment...